Hai, gadis kecil empat belas tahun silam
Kau lebih terlihat seperti orang lain jika dibandingkan dengan diriku saat ini. Jika kau secerah mentari, aku kini menjadi sekelabu awan yang bersiap menurunkan badai
Kau masih bisa tertawa lepas meski dibawah hujan deras, sementara aku bahkan bisa menangis saat langit sedang biru-birunya
Kau dan hujan laksana langit malam yang menaungi bintang gemintang. Kau hanya perlu tertawa dibawahnya tanpa peduli pada gelap
Sedangkan tangis dan aku seperti mentari dan ufuk cakrawala. Aku dibuat tenggelam olehnya
Aku masih ingat terik mentari kala itu, suasana pulang sekolah yang ramai, berdesak-desakkan di parkiran, berjuang mengeluarkan sepeda dari himpitan sepeda lain. Tepat setelah keluar dari gerbang, sawah membentang luas, menyambutmu. Angin yang berhembus di sela-sela ilalang sepanjang jalan menerbangkan aroma karat sepeda yang khas. Aku masih tidak mengerti kenapa kau sangat berambisi untuk meninggalkan bentuk kedamaian serupa itu?
Nampaknya kau meletakkan beban yang berat padaku. Cita-cita omong kosong itu membuatku harus menyeret kaki untuk sekedar melewati hari yang tak aku duga akan sesulit ini.
Apa kau pernah berfikir harus berjalan sepanjang tiga kilometer setiap hari? berdesak-desakkan di angkutan umum? jangankan duduk, punya tempat untuk berdiri pun kau harus bersyukur. Belum lagi menahan kantuk di pelajaran pertama karena jam masuk yang terlalu pagi dan pulang sekolah di waktu petang. Aku yakin semua gambaran buruk itu sedikitpun tidak terlintas di benakmu
Kau fikir harapan ambisiusmu itu akan tercapai hanya dengan rajin belajar dan mendapat nilai tinggi? untuk sekedar hidup normal selayak remaja seusiamu pun, kau tak bisa
Kau tidak pernah membayangkan hal-hal itu sebelumnya kan ?
Mau aku katakan hal buruk lainnya?
Kau akan menyesal telah meninggalkan tanah yang membesarkanmu, meninggalkan separuh hatimu yang kepadanya hatimu telah jatuh. Percayalah cinta pertama yang namanya selalu mengisi diary mu itu tidak pernah kau gapai sepanjang empat belas tahun ini
Namanya masih ada, berserakan di lembar-lembar diary yang mengusang, yang seiring berjalannya waktu tak pernah kau buka lagi. Ia telah berganti dengan diary yang baru. Kau harus merelakan cinta pertamamu tertinggal tanpa pernah lagi untuk bisa sekedar kau sapa. Kabar baiknya, kau menemukan pria lain yang bersedia menerima sisi tergelapmu
Aku tidak ingin menyalahkanmu. Tak ada yang bisa kusalahkan dari harapan suci gadis kecil terhadap dirinya di versi dewasa
Aku tidak sedang menakutimu tapi aku masih belum menceritakan bagian terburuknya
Ada sesuatu yang mengharuskan aku bekerja dan menunda keinginanku untuk melanjutkan pendidikan. Ini tentang orang-orang yang kamu percaya - keluarga. Tentang orang-orang yang dulunya saling menyayangi, lalu tidak lagi. Mungkin ini adalah salah satu titik terendah dalam hidupmu setelah 'mereka' memutuskan untuk menempuh jalan masing-masing.
Aku terus bekerja, enggan memikirkan lebih dalam keadaan ini. Hingga sebuah tanya muncul di kepalaku. Masih layakkah cita-cita itu kukejar?
Aku pun melanjutkan pendidikan setelah mengakhiri segala macam perdebatan yang rumit di kepala, Aku tetap menempuh pendidikan meski tidak di tempat yang kumau, meski tidak di bidang yang kuminati. Aku akhirnya melanjutkan pendidikanku, tapi tidak dengan cita-citaku. Kau mungkin tidak memahami alasanku, tapi keadaan disekitarku membuatku tidak memiliki alasan lain untuk tidak melakukan ini.
Maaf, Apa yang membuatmu pergi ke Ibu Kota justru tidak kamu gapai. Aku hanya merasa, cita-cita itu sudah tidak lagi relevan dengan jalan ceritaku sekarang
Akhirnya kau sampai di bagian terburuk yang sejak tadi ingin kau ketahui
Setelah aku belajar menerima hidup yang tidak kuinginkan ini, kehidupan kembali memberiku pilihan sulit yang membuatku rasanya ingin mati saja. Pendidikan atau ego? Sebagai manusia yang mengerti cara berfikir, aku rasa kau tahu mana yang harus kupilih. Kau tahu bagaimana rasanya? Aku meninggalkan segala kedamaian di kampung halaman, menggantung harapan di ibukota, lalu harus kubuang sia-sia sekarang juga?
.
Apa yang kau baca di atas bukan cerita fiktif yang biasa kau tulis, tapi scenario nyata yang harus kau jalani. Cita-cita? Harapan? Kau masih punya, tapi mereka sudah berubah menyesuaikan dengan keadaan saat ini
Apa kau membenci segala keputusan yang kubuat? Aku tak keberatan kau membenciku, tak keberatan jika kau menganggap aku baru saja menghancurkan hidupmu. Segala proses yang kau anggap menghancurkan hidupmu adalah proses menuju dewasa. Aku mungkin tak sebahagia kamu, tapi rasa syukur membuatku lebih kuat darimu.
Aku berterimakasih padamu, karena pernah menciptakan waktu yang didalamnya aku bisa tertawa lapas, waktu dimana aku tak punya sedikitpun alasan untuk menangis. Biar aku yang melanjutkan cerita ini dengan segala permasalahan di dalamnya. Kau tetaplah hidup sebagai gadis kecil yang bahagia di masa silam.
Komentar
Posting Komentar