Bye, Re!

 








   Aku tidak apa-apa kalau aku tidak bisa tidur semalaman, yang aku benci kalau tiba-tiba saja perasaan sialan bernama rindu menyergapku. Selain aku tidak bisa lari kemana-mana, isi kepalaku seketika berkelebat ingatan-ingatan yang sudah tidak ingin aku ingat. Rasanya benar-benar membuatku tidak tahan. Aku harus mati-matian mengurung niat agar tidak mengirimi cowok itu pesan singkat.

aku melirik foto polaroid yang aku sematkan didepan tempat bolpoint. 'Kenapa pula aku masih menyimpan foto sialan itu?' aku menarik foto itu dan membuangnya ke tempat sampah di samping meja belajar. Persetan aku bisa tidur jam berapa, yang harus aku lakukan hanya jangan sampai aku mengirimi cowok itu pesan singkat.

    "Mir, lo duluan ke perpus gih, ada buku gue yang ketinggalan di kelas." Aku menghentikan langkah tepat saat kami baru sampai di depan perpustakaan. Mirna mengalihkan pandangannya ke arahku setelah memperhatikan salah satu sisi perpustakaan.

"Ada buku ketinggalan atau gara-gara ada Reza?"

"Apaan sih, gue udah biasa aja sama dia." Kataku mencari alasan sambil pergi begitu saja. Tanpa aku mengatakan apapun soal Reza, sepertinya Mirna sudah menduga hal yang sebenarnya.

Alih-alih pergi ke kelas seperti yang aku katakan pada Mirna, aku justru memasuki cafe dan memutuskan mengerjakan tugas di sana. Kali ini aku akan mencari-cari di internet terlebih dahulu beberapa sumber untuk keperluan presentase mata kuliah pengantar bisnis besok, setelah moodku membaik baru aku akan meminjam buku dari perpustakaan. 

"Tumben sendirian, Mirna mana?" Suara itu muncul lima belas menit setelah aku duduk. Aku mengenali suara itu,

"Dia di perpustakaan. Lo baru dateng atau udah mau pergi Di?" Ardi, bisa dibilang temanku sekaligus teman Reza karena kami dari SMA yang sama dan hubungan kami cukup dekat.

"Oh pantesan lo nggak ikut Mirna, tadi Reza bilang dia juga mau kesana." Mendengar nama itu disebut lagi, moodku yang tadi sudah baikan berubah buruk sedikit. 

"Ehem," Ardi berdehem setelah menyadari raut mukaku yang nggak enak, dia menarik kursi di depanku dan duduk disana, "Kelas gue udah selesai, tadinya mau balik tapi diluar panas banget jadi gue ngadem dulu sambil pesen smoothies." Ardi melanjutkan, "Mending lo tidur dulu Nad, Mata lo lebih hitam dari mata panda." 

Saran yang sangat bagus karena memang aku tidak tidur semalaman. Tapi mengingat deadline tugas yang mepet rasanya malah semakin tidak bisa tidur, tubuhku mirip robot yang otomatis gerak sendiri, di sisi lain aku pun merasakan kalau aku capek banget.

Aku cuma tersenyum sebentar lalu fokus mengerjakan tugas lagi. 

"Pelan-pelan aja, dua tahun bukan waktu yang sebentar tapi bukan berarti lo nggak bisa lewatin fase ini." Aku tahu kemana arah pembicaraan Ardi.

"Mulai deh, nggak lo nggak Mirna, suka banget ngait-ngaitin sesuatu yang belum tentu bener."
 
Smoothies Ardi datang, dia menyesapnya terus lanjut membantah, "Belum tentu salah juga, kan? Gue udah temenan sama kalian berdua dari SMA, kalian nggak perlu ngomong apa-apa juga gue udah paham dari gerak-gerik lo berdua."

"Tapi dia secepet itu Di, gue belom sebulan putus sama dia tapi dia kaya udah biasa aja, kaya nggak ada sedih-sedihnya." Gara-gara moodku memburuk, aku jadi tidak memikirkan kata-kata apa yang seharusnya dan tidak seharusnya keluar dari mulutku.

"Ya terus? Lo nggak bisa tentuin apa yang bakal dia lakukan seusai kalian selesai, kan? dan kalaupun iya dia beneran nggak sedih, lo mau konfrontasi dia padahal hubungan kalian udah selesai, gitu?"

Itu yang sebenarnya ingin aku lakukan, rasanya nggak adil kalau hanya aku yang merasakan sakit hati ini.

"Tahu nggak, apa bedanya lo sama Reza? Reza bisa leluasa ungkapin apa yang dia rasain saat itu juga ketika sesuatu terjadi, tapi lo... lo butuh waktu untuk cerna dulu semuanya. Jadi ketika Reza sudah move on, lo baru ditahap bisa mengungkapkan apa yang lo rasain. Lo nggak salah, setiap manusia emang punya caranya sendiri dalam menghadapi masalah tapi konsekuensi orang kaya lo adalah lo harus terima kalau lo 'ketinggalan'"

Aku tersenyum getir, "Emang dari dulu gue nggak cocok sama Reza, makanya bisa putus cuma gara-gara masalah sepele."

"Nggak gitu dong Nad, Kalau nggak cocok kenapa bisa sampai dua tahun coba? Kaliannya aja yang belum pandai mengolah emosi masing-masing." 

Aku menarik gelas es kopi, mengaduk-aduk cairan itu dengan sedotan sebelum menyesapnya.

"Jadi gue harus gimana?"

Ardi menutup laptopku dan membetulkan posisi duduknya.

"Lo mau jalan di tempat atau maju ke depan? Lo yang pilih."

"Gue nggak mau jalan di tempat tapi gue masih nggak habis pikir-"

"Ssstt!" Ardi menutup bibirku dengan bolpoint yang ada di meja.

"Lo boleh jalan di tempat asal nggak terpuruk. Lo boleh takes time sebanyak yang lo butuh, tapi lo harus sadar satu hal. Waktu itu bergerak maju, masa lalu itu bukan sebuah tempat yang dimana lo bisa balik lagi, karena meskipun lo menemukan orang yang sama di masa depan lo bukan berarti dia sosok yang sama kaya orang di masa lalu lo."

Aku mentertawakan diri sendiri, "Emang guenya aja yang bego ya Di."
 
"Tugas pengabis lo udah kelar?" Gue mengubah topik setelah kami terdiam beberapa saat. 

"Gue udah kelar presentase dari kemarin, kenapa?" Ardi mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Tadinya gue mau balikin hari ini, tapi perpustakaan lagi rame banget jadi paling gue balikin besok."

"Ini boleh gue pinjem nggak? Gue balikin lusa, gue yang bayar dendanya deh!" Tentu saja aku nggak menyianyiakan kesempatan melihat buku yang tadi siang hendak aku pinjam ada di depan mata.

         Aku berjalan menjauh dari petugas perpustakaan setelah mengembalikan buku yang Ardi pinjam, aku menyelinap di tengah-tengah rak sastra dan mengambil buku Dunia Shopie sebelum kembali ke tempat duduk. Selangkah sebelum sampai tempat duduk, kakiku terselip ujung karpet dan membuatku hampir tersungkur kalau tidak ditolong seseorang.

"Lain kali hati-hati Nad." Suara itu memasuki telingaku lebih dulu sebelum aku sadar siapa yang meraih lenganku. Nada suaranya yang datar tidak kedengaran seperti seseorang yang punya masalah denganku.

"Thankyou Za." 

Aku duduk di kursi semula, Reza rupanya duduk tepat di depanku.

"Masih belum kelar baca buku itu?" Reza mengecilkan volume suaranya. Lagi-lagi nadanya terdengar biasa saja, dia berbicara denganku seperti dia berbicara pada temannya yang lain. Seolah-olah memang tidak pernah terjadi apa-apa antara kami berdua.

"Kemarin-kemarin fokus ujian jadi nggak sempet baca novel. Mana si Ardi? Tumben nggak sama dia." Nada bicaraku mengimbangi Reza. Benar kata Ardi, Aku ada 'dibelakang' Reza. Saat Reza sudah move on, aku baru selesai mencerna semuanya. Aku baru menyadari kalau tidak peduli serindu apa aku pada masa-masa bersama Reza, aku tidak akan bisa menemukan sosok Reza yang aku rindukan di dalam Reza yang kini duduk di depanku. Reza di depanku sudah melangkah jauh sedangkan aku masih terjebak di bayang-bayang Reza yang dulu. 

"Pelan-pelan aja Nad," Kalimat Ardi seketika melintas di benakku.

Kalau dipikir-pikir aku belum benar-benar mengucapkan selamat tinggal maupun terima kasih pada Reza. Cara putus kami sama sekali nggak baik padahal kami dulunya teman baik. Benar-benar nggak dewasa. Sepertinya sekarang aku punya kesempatan bagus untuk mengatakannya,

"Ah! gue lupa ada janji. Bye Re, Makasih ya buat sebelumnya!"

Gue beranjak dari kursi sambil melambaikan tangan meninggalkan Reza. Kalimat itu mungkin kedengaran seperti pamitan pada umumnya walaupun sebenarnya aku mengatakannya dengan arti yang lebih dalam dari sekedar berpamitan.
 
        
 

Komentar

Postingan Populer